PONDOK PESANTREN



Pondok pesantren merupakan salah satu Lembaga Pendidikan tertua di Indonesia yang menjenjangi setiap tingkat Pendidikan. Bahkan, kini pesantren hadir dengan berbagai inovasi dan turut bersaing menghadapi tantangan zaman. Tidak hanya soalan Pendidikan berbau agama, tapi pembekalan terhadap skill terhadap profil lulusannya.

Salah satu pondok pesantren yang menjawab tantangan persaingan itu ialah pondok pesantren Al-Amien Perenduan Sumenep Madura. Pondo
k pesantren Al-Amien merupakan salah satu pondok yang khas dengan keunikannya. Terkait historis, pondok ini berdiri berdasarkan perkembangan agama pada lingkungan disana. Atas dasar pemikiran kiyai Khotib, pondok pendiri dan dilanjutkan oleh pengembangnnya Kiyai Syarqowi. Ia hijrak dari Guluk-guluk setelah 14 tahun berlalu memberikan bimbingan terhadap masyarakat sekitar.

Awalnya kiyai Syarqowi menikahkan Kiyai khotib dengan salah satu seorang putri asli Prenduan yang Bernama Aisyah atau yang sering disebut dengan Nyai Robbani. Selama 20 tahun masa perintis pesantren dfengan diawali dengan mendirikan langar kecil yang sering disebut sebagai Congkop. Pesantren congko menjadi identic dengan sebutannya itu. Karena terkenal dari segi kekhasannya dengan congkop tersebut. Berdiri diatas lahan yang gersang kurang lebih 200 meter.

Setelah meredup dengan kepergian kiai Chotib, kegiatan pendidikan Islam di Prenduan kembali menggeliat dengan kembalinya kiai Djauhari (putra ke tujuh kiai Chotib) dari Mekkah setelah sekian tahun mengaji dan menuntut ilmu kepada Ulama-ulama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Beliau kembali bersama istri tercinta Nyai Maryam yang merupakan putri salah seorang Syekh di Makkah Al-Mukarromah. Sekembali dari Mekkah, KH. Djauhari tidak langsung membuka kembali pesantren untuk melanjutkan rintisan almarhum ayah beliau. Beliau melihat masyarakat Prenduan yang pernah dibinanya sebelum berangkat ke Mekkah perlu ditangani dan dibina lebih dahulu karena terpecah belah akibat masalah-masalah khilafiyah yang timbul dan berkembang di tengah-tengah mereka.

Walau sempat mengalami perpecahan, tapi kini realitanya sudah berbanding terbalik dari zaman silam. masyarakat mulai menerima semua perubahan yang dibawa dan menyatu dengan pondok pesantren tersebut. Hampir semua masyarakat secara mayoritas memilih memondokkan anak mereka ke pondok pesantren tersebut. Pasalnya, profil lulusan pondok telah membuktikan bahwa mereka mampu bersaing bahkan hingga manca negara.